Sabtu, 22 Juni 2013

Proposal MPK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Representasi perempuan dalam iklan saat ini khususnya iklan televisi sangat meningkat karena itu terkadang sudah menjadi budaya di masyarakat Indonesia, tanpa mempedulikan peraturan yang berlaku. 
Iklan biasanya selalu dibuat secara persuasif, hal ini tentu untuk memikat keingintahuan masyarakat akan produk yang diiklankan. Dengan warna yang mencolok, dengan kata-kata yang menarik, bahkan selalu menggunakan artis yang terkenal dikalangan masyarakat untuk menarik perhatian, Dengan demikian, akan banyak masyarakat yang terpengaruh dan akhirnya membeli produk itu meskipun mungkin tidak terlalu dibutuhkan.
Tidak bisa dipungkiri keberadaan iklan selain sebagai sumber informasi, juga merupakan hiburan tersendiri. Namun dengan banyaknya iklan yang ditawarkan, masyarakat tidak lagi peduli dengan penawaran maupun tampilan iklan tersebut, kecuali iklan itu dibuat dengan sangat kreatif sehingga dapat menarik perhatian dan membuat masyarakat teringat pada iklan tersebut. Iklan dapat membantu mencapai sebagian besar sasaran komunikasi.
Tayangan-tayangan iklan yang menarik menjadikan pikiran masyarakat tertuju pada produk yang telah disampaikan. Iklan memiliki pengaruh yang sangat luar biasa terhadap masyarakat. Iklan adalah alat paling jitu untuk memperkenalkan sebuah produk pada konsumen. Yang sebelumnya tidak tertarik serta tidak mengetahui jadi tertarik akibat pengetahuan akan iklan tersebut. Upaya untuk meningkatkan konsumsi secara massal melalui publikasi media massa dalam bentuk iklan.
Tampilan iklan di Indonesia tak jauh berbeda dengan iklan di negara lain yang masih kental dengan bias Gendernya. Contoh Iklan yang bias jender adalah iklan Bank  DBS yang menampilkan ayah yang sedang bermain layangan dengan putranya. Di sudut atas iklan itu tertera kalimat "Ayahku bekerja keras untuk memastikan impianku menjadi pilot jadi kenyataan. Kini giliranku mewujudkan impiannya." Pernyaatan tersebut jelas bemuansa patriarkis karena mengandaikan hanya ayahlah yang bekerja keras untuk menghantarkan kesuksesan seorang anak, sementara peran ibu tak diperhitungkan.
Iklan yang dianggap merendahkan martabat wanita yang sedang banyak dibicarakan orang adalah iklan salah satu produk provider telfon GSM. Pada iklannya ditampilkan seorang wanita bertubuh seksi mengenakan kaos ketat yang bertuliskan angka 1 yang terletak di bagian dada dan pada iklan tersebut terlihat mengekspose bagian tersebut.
Pada iklan-iklan Bank juga tak jarang wanita lah yang dipasang sebagai objek iklannya. Hal ini mungkin dikarenakan karena adanya stereotypebahwa wanita mempunyai pola konsumerisme yang tinggi, sehingga wanita selalu beranggapan "money oriented". Untuk itulah iklan-iklan Bank yang tentu saja Bank sangat dekat kaitannya dengan uang, banyak memakai wanita sebagai objeknya. Pada iklan-iklan credit card banyak yang menampilkan sosok wanita dengan kantong-kantong belanjaan. Ini bisa diartikan bahwa wanita mempunyai pola konsumerisme yang tinggi dan membutuhkan kartu kredit. Padahal, banyak juga pria yang mempunyai pola konsumerisme yang sama tingginya dengan wanita. Di salah satu iklan cetak sebuah bank swasta nasional digambarkan pula wanita yang berdiri di tengah-tengah timbunan uang. Hal ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa wanita mempunyai sifat matrealistis atau "mata duitan". Pandangan seperti itulah yang merugikan kaum wanita.
Pemahaman ini muncul karena cara pandang tradisional yang menekankan dualisme pembagian kerja secara seksual sementara ayah mencari uang untuk kepentingan sekolah anak, sang ibu menyiapkan keperluan rumah tangga di rumah. Karena pekerjaan ibu tidak bernilai secara ekonomis maka kerja kerasnya dipandang secara sebelah mata. Karena itu beberapa negara maju seperti Venezuela mulai menerapkan upah kerja bagi ibu rumah tangga yang nilainya sama dengan upah minimum pekerja.
Iklan lain misalnya iklan, iklan minyak goreng Sania yang diperankan Rima Melati di TV juga melanggengkan patriarki. Pemilihan artis perempuan untuk pekerjaan domestik tanpa sengaja sebenarnya perwujudan dari kepentingan ideologi conventional. Begitu juga iklan sabun cuci piring mama lemon dengan nada sarkastik Ruth Sahanaya, pemeran utama iklan tersebut, menyebutkan "kalau mama dirumah semua pasti beres." Iklan semacam ini tentu saja bias karena mengabaikan partisipasi kaum laki-laki yang sudah sadar jender dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan baik. Selain itu juga iklan tersebut mengukuhkan peran tradisional perempuan yang hanya diperuntukkan urusan domestik.
Iklan Hero Supermarket juga memborbardir pembacanya dengan pesan-pesan stereotipe. Iklan itu menampilkan Nani Wijaya yang sedang mendorong belanjaan dan pada saat bersamaan menelpon seseorang melalui phone cellularnya. Pesan utama dari iklan itu adalah ayo perempuan belanja ramai-ramai ke Hero karena belanja dapur adalah tugas utama perempuan.
Tetapi pesan tersembunyi yang ingin disampaikan adalah bahwa perempuan itu konsumtif senang belanja dan menghabiskan pulsa untuk gosip. Menggunakan aktris perempuan untuk membidik customer perempuan agar membeli produk-produk berkaitan dengan kebutuhan yang dikonstruksi secara sosial sebagai kebutuhan perempuan adalah kiat perusahaan untuk meningkatkan penjualan.
Contoh terakhir yang saya lihat misalnya iklan KlA Mobil Indonesia yang mempropomisikan Service mobil dan ganti oli gratis untuk mobil produknya menampilkan seorang gadis cantik yang menggunakan seragam montir dan membawa segudang peralatan service mobil. Sekilas iklan ini memberikan pesan kesetaraan jender, namun bila disimak lebih jauh dan dikritisi masih tersimpan pesan bias jender. Perempuan memang hadir disitu tetapi kehadirannya pada level lebih rendah dan kurang fungsional.
Dalam gambar itu, perannya hanya membawakan peralatan montir tetapi bukan montir itu sendiri yang bekerja memperbaiki mobil. Iklan ini refleksi dari realitas masyarakat kita di mana peran perempuan dalam pekerjaan maskulin hanya sebagai pelengkap saja.
Sementara beberapa iklan barang-barang elektronik untuk kebutuhan dapur kebanyakan menggunakan perempuan sebagai pemeran centralnya. Iklan kulkas Samsung dan iklan rice cooker dan magic jar sanken disajikan dengan menampilkn perempuan cantik, seksi, dan dengan pose yang aduhai. Ini.adalah contoh nyata dari bagaimana ideologi patriarkhi begitu dalam menyusup dalam media iklan. Sebagai "penguasa dapur," perempuan dianggap sebagai target yang tepat untuk sasaran tembak produk-produk tersebut. Buat mereka, menempatkan laki-laki dalam wilayah-wilayah yang dikonstruksi sebagai milik perempuan dianggap melawan arus utama pembagian kerja secara seksual, karena itu tidak ada keberanian untuk mengubah wacana dalam iklan karena kepentingan dapur perusahaan lebih diutamakan dari pada aspek pendidikan masyarakat.
Perempuan sebagai model iklan di media massa, baik cetak maupun elektronik makin marak digunakan. Menggunakan perempuan sebagai barang komoditi dalam iklan bukan hal baru. Pengumbaran sensualitas untuk menarik perhatian pria dianggap wajar. Sensualitas merupakan tataran imajinasi seksual individu terhadap objek yang dilihatnya. Sensualitas tak lepas dari fashion, make-up serta tubuh itu sendiri.
Perkembangan dunia periklanan pada masa sekarang ini kian pesat dan membuat masyarakat seperti mabuk akan maraknya iklan yang bermunculan tanpa henti. Banyak sekali iklan yang dibuat dengan berbagai macam ide. Ironisnya, tidak sedikit juga iklan yang diproduksi dengan tidak memperhatikan norma-norma kesusilaan ataupun moral dan etika. Hal ini akan membawa pengaruh yang akan menimbulkan pro dan kontra terhadap suatu iklan di dalam masyarakat. Seperti yang terjadi dalam dunia periklanan, baik di dalam ataupun luar negeri, dimana wanita dijadikan objek periklanan yang seringkali membuat berbagai pihak berpikiran negatif tentang wanita.
Dalam dunia periklanan memang ada kalanya seorang wanita dijadikan objek iklan yang memang terkait dengan materi iklan, tetapi banyak pula yang menjadikan wanita hanya sebagai objek tempelan semata untuk menarik perhatian. Artinya, tanpa objek seorang wanita pun sebenarnya iklan tersebut telah berbicara atau sudah dapat menyampaikan tujuannya dan dapat dimengerti khalayak.
Maka dari itu, dalam kasus-kasus seperti itu wanita dalam iklan tersebut terkesan hanya dieksploitasi demi "keindahan" iklan semata. Para pelaku periklanan banyak yang berpendapat bahwa wanita dengan segala keindahan biologisnya amat bermanfaat bagi kesan dan daya tarik suatu iklan. Wanita yang cantik akan menjadi identitas dari kualitas, mutu, dan kesan mewah pada suatu produk yang ditawarkan. Semakin terkenal dan popular wanita yang ditampilkan pada suatu iklan, maka semakin tinggi pula kualitas, mutu, kesan mewah akan suatu produk.
Sebagai cara untuk mengatasi permasalahan yang menimbulkan kontra dari berbagai pihak ini, terutama dari pihak wanita sendiri, maka hal pertama yang harus dikembangkan adalah adanya kesadaran pada diri para pembuat iklan sendiri. Para pembuat iklan dapat membuat iklan memperhatikan etika dan sopan santun juga tidak merendahkan SARA, dalam hal ini khususnya wanita.
Para pelaku iklan hendaknya menghargai kaum wanita sebagaimana mestinya, bukannya malah hanya memanfaatkan wanita karena keindahan biologisnya saja yang malah akan memperburuk stereotype kaum wanita. Terlepas dari apakah mereka menyadari akan adanya kontra atau keberatan dari pihak-pihak tertentu, sudah seharusnya wanita tidak dijadikan "objek tempelan" pada iklan-iklan agar adanya persepsi pengeksploitasian wanita pada dunia periklanan dapat segera dihilangkan.
Representasi perempuan dalam iklan produk Softener Soklin, khususnya iklan Televisi. Penggunaan perempuan sangat tidak sesuai dengan yang seharusnya bila dibandingkan dengan iklan produk yang lain yang kadang tak sesuai dengan pesan yang disampaikan. Dimana disini seharusnya tidak harus yang menjadi model iklanya adalah perempuan bisa juga kaum laki-laki.
Peneliti melihat bahwa penelitian mengenai perempuan dalam iklan produk Sofetener Soklin masih jarang dilakukan terutama diiklan ini terlihat sekali para kreatif periklanannya hanya melihatkan tingkat representasi perempuan dalam iklan yang terkadang memperlihatkan seksinya si perempuan tersebut, padahal untuk ukuran iklan softener soklin laki-lakipun sebenarnya tidak masalah untuk menjadi model iklan.  

A.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengidentifikasikan masalah tersebut, sebagai berikut :
a.       Bagaimanakah Representasi Perempuan Dalam Iklan Softener Soklin?
b.      Berapakah tingkat representasi perempuan dalam iklan?
B.     Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian lebih difokuskan kepada, Bagaimanakah Representasi Perempuan dalam Iklan “Softener Soklin Premium,  Iklan Televisi”.
C.    Perumusan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan masalah penelitian maka rumusan masalah diatas adalah : “Representasi Perempuan dalam Iklan Softener Soklin Premium 30 sec”
D.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mendiskripsikan Representasi  perempuan dalam iklan.
2.      Mendiskripsikan dan menjelaskan mengenai representasi perempuan dalam iklan.
E.     Signifikansi Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.       Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan jawaban yang jelas mengenai teori yang berhubungan dengan penelitian sehingga dapat menjadi bahan diskusi serta acuhan bagi pengembangan ilmu komunikasi.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini  adalah : Secara praktis dapat mengetahui Bagaimanakah Representasi Perempuan dalam Iklan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A.    Tinjauan Pustaka
1.      Periklanan
a.      Sejarah Priklanan
Perkembangan dunia periklanan dimulai dengan terbitnya iklan pertama sperti Write pada tahun 1800 yang menangani periklanan lotere resmi pemerintah inggris.  Biro iklan berikutnya yaitu reynel and son terbentuk di london pada tahun 1912.
Ada tiga istilah yang umum dipakai di indonesia untuk menyebut advertising, yaitu: reklame, advertensi, dan iklan.reklame berasal dari bahasa belanda yang dieja sebagai reclame.kata itu juga berasal dari bahasaperancis reclamare. Advertensi berasal dari bahasa belanda advertentie yang juga mengacu pada bahasa inggris advertising.Sedangkan iklan yang umum dipakai dalam bahasa Melayu berasal dari bahasa Arab i’lan atau i’lanun secara harfiah berarti informasi.
Banyak definisi diberikan bagi kata ‘periklanan’, akan tetapi  salah satu yang paling sederhana dengan harapan agar kita tidak berdebat soal ini. Periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan melalui media atau secara langsung. Berdasarkan pengertian ini maka ‘Biro Iklan’ adalah lembaga usaha yang memberikan jasa periklanan bagi siapa yang membutuhkan baik perorangan, perusahaan pembuat barang atau pemasok jasa bahkan pemerintah. Oleh karena bentuk pelayanan periklanan meliputi berbagai jenis kegiatan maka dilihat dari skala usahanya ada berbagai ukuran sebuah biro iklan.
Ada kios berukuran 1×1m yang menawarkan jasa pembuatan cap dan papan nama toko, di luar kiosknya terpampang ‘Biro Iklan’. Ada rumah kecil yang memberikan pelayanan fotokopi dan agen langganan surat kabar dan majalah. Semangat wiraswasta telah mengembangkan pemiliknya untuk menerima pesanan pemasangan iklan dengan harga resmi. Di bawah tulisan terima Fotokopi kini tertulis ‘Biro Iklan’. Ada sekelompok seniman yang pintar menggambar wanita cantik dan membuat huruf yang rapih dan artistik. Di muka studionya dipasang tulisan ‘Biro Iklan’. Ada gedung berlantai banyak, berkarpet tebal, pegawainya berdasi corak mutakhir, setiap ruangan disejukkan oleh AC dan di luar ada prasasti kuningan yang dietsa ‘Advertising Agency’. Agar pembicaraan kita hari ini dapat mencakup sebanyak mungkin kegiatan yang berlangsung di sebuah biro iklan maka anda semua akan saya ajak untuk berkunjung pada sebuah ‘Full Service Advertising Agency’.
Sebuah biro iklan yang mendukung predikat ini adalah biro yang mempunyai kapasitas untuk memberi pelayanan di tiga bidang yaitu, pertama, konsultasi komunikasi pemasaran, kedua pelayanan perencanaan dan pemesanan media, dan ketiga pelayanan kreatif.
Pelayanan konsultasi pemasaran merupakan barisan terdepan yang berhadapan langsung dengan fihak pemakai jasa periklanan. Minat yang disampaikan oleh sebuah perusahaan atau perorangan pada sebuah biro iklan akan diterima oleh para pakar pemasaran yang mampu berdialog dengan manajer pemasaran dari perusahaan yang membutuhkan jasa iklan.
Kegiatan awal sebuah proses beriklan lebih sering merupakan peristiwa ekonomi. Strategi pemasaran, kebijaksanaan harga, pangsa pasar strategi distribusi, trade relations merupakan pokok-pokok pembicaraan yang paling hangat pada stadium ini.
Semakin besar skala usaha sebuah biro iklan semakin besar pula kemampuannya untuk mempekerjakan ahli-ahli dan pakar-pakar pemasaran yang akan menentukan kualitas hubungan awal dengan para calon pemakai jasa.
Berkembangnya pendidikan ilmu ekonomi telah banyak memberi dorongan bagi pertumbuhan kualitas perusahaan periklanan di Indonesia. Kehadiran modal asing dan kegiatan memproduksi barang-barang yang berasal dari luar negeri telah menghadirkan kegiatan pemasaran global yang dampaknya sangat menentukan kemampuan para pakar pemasaran di sebuah biro iklan dalam berbicara pada tingkat pengetahuan pemasaran yang bersifat internasional.
Sektor kedua yang menunjang predikat ‘full service’ adalah Media. Seperti hadirnya para pakar pemasaran maka perkembangan biro iklan di Indonesia juga sangat ditentukan oleh meningkatnya kualitas pelayanan perencanaan dan pemesanan Media.
Peningkatan ini tidak lepas dari perkembangan industri media yang telah berlangsung sejak dua dekade ini. Tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda. Terbitnya puluhan majalah-majalah baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten, masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya.
danya pilihan yang diberikan oleh industri media dan tantangan untuk menemukan rancangan media yang efektif dan terjangkau oleh biaya periklanan yang disediakan oleh perusahaan pemakai jasa iklan, serta riset dan penelitian yang dilakukan oleh perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang jasa riset telah ikut memberikan masukan yang sangat menunjang kualitas pelayanan jasa perencanaan media. Fakta ini telah memberi warna khusus bagi kegiatan periklanan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan secara tepat arah dan terukur.
Sektor ketiga yang juga ikut mendukung predikat Full Service adalah pelayanan jasa kresatif. Pelayanan jasa kreatif merupakan bagian akhir dari mata rantai proses terciptanya sebuah iklan sebelum disalurkan ke Media. Karena kegiatan dan proses kreatif memberikan wujud bagi sebuah iklan atau pesan maka sering orang mengira bahwa lahirnya iklan ada di tangan seniman. Pandangan keliru ini telah banyak mendorong banyak seniman yang mendirikan biro iklan dan dalam perkembangan selanjutnya lebih sering mengalami kegagalan.
Dibandingkan dengan peran sektor pemasaran dan sektor media, maka peran sektor kreatif masih jauh tertinggal. Sikap dan wawasan yang berkembang di antara para praktisi di sektor kreatif bila kita amati secara objektif masih terpaku pada kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang sederhana dan sempit. Sebagian besar dari iklan-iklan yang kita temui di media masih berputar-putar di sekitar penonjolan ‘Product/Consumer benefit’ yang ditampilkan apa adanya. Cara lain yang paling mudah dilakukan adalah dengan menciptakan iklan dengan memanfaatkan strategi Before-After, Sebelum makan obat dan sesudah makan obat. Sikap bangsa Indonesia yang paternalistik sering disalahartikan dengan menerapkan strategi testimonial orang-orang yang terkenal. Kehadiran perusahaan periklanan Internasional di Indonesia sedikit banyak telah memperkenalkan praktek-praktek kreatif yar.g sedikit lebih maju. Format-format pengembangan kreatif yang telah teruji mulai diperkenalkan kepada para pakar bidang kreatif.
Perusahaan iklan internasional seperti J. Walter Thompson, Dentsu, BBDO, Ted Bates, O&M, Saatchi & Saatchi telah mempertemukan cara-cara bekerja mereka dan pemikiran yang berkembang di sini. Sudah barang tentu hal ini tidak selalu mampu memberikan kemajuan yang berarti. Salah satu hambatan yang paling besar adalah keterbatasan bahasa Indonesia untuk mendukung ungkapan-ungkapan yang menarik. Salah satu manfaat yang paling berarti dengan kehadiran perusahaan Internasional adalah format yang mampu mempertemukan orang kreatif dan orang pemasaran dan orang-orang Media dalam satu meja yang membicarakan pemecahan-pemecahan terbaik dalam penyampaian pesan iklan. Oleh karena itu kami, orang-orang yang bekerja di sektor kreatif kini harus memahami makna strategi pemasaran, pangsa pasar, membaca hasil riset kualitatif dan mempelajari demografi. Dengan modal pengetahuan di bidang pemasaran dan prinsip-prinsip Media maka sebelum kita mampu menciptakan iklan yang menarik perhatian khalayak pengamat maka setidak-tidaknya kita sudah menciptakan iklan yang benar dan terarah. Bila pintu Creative Department sebuah biro iklan dibukakan bagi anda maka di sana kita akan bertemu dengan banyak orang yang menyandang berbagai fungsi yang berbeda. Ada Creative Director yang menggariskan konsep isi pesan dan strategi penyampaiannya. Ada Art Director yang menggariskan konsep visual dan naskah, ada visualiser yang mengungkapkan gagasan terwujud berbentuk visual, ada copy writer yang menyusun naskah, ada paste up artist yang merampungkan gambar kerja siap cetak/separasi, ada photographer, ada typographer, ada jingle writer/composer/arranger. Semua orang-orang ini memberikan sumbangannya bagi terciptanya sebuah iklan.
Skenario yang berkembang di sebuah Creative Department pada saat ini menunjukkan kuatnya posisi Creative dan Art Director. Situasi ini banyak disebabkan adanya kesenjangan antara tokoh yang menduduki kedua jabatan itu dan tokoh-tokoh lain yang melanjutkan pekerjaan mereka. Kurang tingginya kualitas tenaga kreatif di bidang periklanan dewasa ini banyak disebabkan oleh tidak adanya pendidikan khusus yang menghasilkan tenaga spesialis periklanan. Pendidikan Commercial Art yang diselenggarakan di luar negeri merupakan tempat ditempanya para tenaga kreatif yang akan bekerja di bidang periklanan.
Sedangkan pendidikan di sini lebih mengarah kepada pendidikan desain grafis yang lebih menekankan faktor estetik atau pendidikan komunikasi visual yang mempelajari secara luas pemecahan visual masalah komunikasi.
Masih rendahnya kualitas tenaga kreatif dalam biro iklan di Indonesia dewasa ini telah membawa pada praktek pembuatan iklan yang melanggar kode etik maupun standar nilai yang dihormati masyarakat.
Salah satu perkembangan yang menarik akhir-akhir ini adalah keterlibatan biro iklan pada perencanaan kampanye non-komersial. Program keluarga berencana kini diselenggarakan dengan pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada marketing.
Istilah ‘Social Marketing’ kini menjadi kawasan baru para pakar periklanan yang menerjuni kegiatan periklanan non-komersial yang tidak kurang pentingnya bagi Indonesia dewasa ini. Ada yang terlibat dalam kegiatan menunjang marketing produk-produk yang distribusinya sangat terbatas, akan tetapi ada yang terlibat dengan kegiatan marketing produk yang tersebar luas dan dikonsumir oleh orang yang lebih banyak.
Kualitas dari performance-nya akan terbaca dari citra produk dan tercapai tidaknya tujuan-tujuan marketing yang telah digariskan. Dari catatan yang saya ketahui maka hanya ada biro iklan yang masuk dalam kategori Full Service Advertising Agency. Dari sebanyak ini sebagian besar berada di Jakarta.
Posisi sebuah biro iklan yang sangat terlibat dengan strategi periklanan sebuah produk tertentu telah sangat menutup pintu mereka terhadap orang luar sehingga agak sukar untuk bisa mengintai secara langsung proses yang berlangsung di dalamnya
b.      Sejarah Periklanan di Dunia
Masa sebelum ditemukannya mesin cetak
“ Commercial message and political campaign displays have been found in the ruins of ancient Arabia. Egyptians used papyrus to create sales messages and wall posters, while lost-and-found advertising on papyrus was common in Ancient Greece and Ancient Rome. Wall or rock painting for commercial advertising is another manifestation of an ancient advertising form, which is present to this day in many parts of Asia, Africa, and South America.”
(Pesan komersial dan publikasi kampanye politik sudah ditemukan dalam reruntuhan bangsa Arab kuno. Orang-orang mesir menggunakan papyrus untuk membuat pengumuman mengenai barang-barang yang di jual dan membuat poster yang ditempelkan di dindng, saat iklan mengenai ‘lost and found’ mulai marak di Yunani dan Romawi kuno. Lukisan dinding dan batu untuk iklan komersial merupakan manifestasi lain dari bentuk periklanan kuno, dimana hal itu menunjukkan kehadiran iklan masa lalu di bagian Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.)
Para arkeolog meyakini, advertising sudah ada sejak zaman dulu. Advertising dilakukan dalam berbagai bentuk “mempublikasikan” berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Metode iklan pertama yang dilakukan oleh manusia sangat sederhana. Pemilik barang yang ingin menjual barangnya akan berteriak di gerbang kota menawarkan barangnya pada pengunjung yang masuk ke kota tersebut. Iklan sudah dikenal manusia dalam bentuk pesan berantai (word of mouth) yang bentuknya pengumuman-pengmuman. Pesan berantai itu disampaikan dari mulut ke mulut untuk membantu kelancaran proses jual-beli.
Pesan iklan dalam bentuk tertulis mulai ditemukan pada masa Babylonia 3000 SM berupa kepingan tanah liat (clay tablet) bertuliskan prasasti tentang dealer salep (ointment dealer), juru tulis (scribe) dan pembuat sepatu.
Peninggalan Mesir dan Yunani Kuno berupa pengumuman-pengumuman di dinding dan naskah di daun papirus, memberikan pengumuman tentang datangnya kapal pembawa anggur, rempah-rempah, logam, barang-barang dagangan baru, acara-acara  (pertarungan gladiator) yang bakal digelar, budak yang lari dari tuannya. Orang-orang Roma mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator. Iklan pada jaman ini hanya berupa surat edaran. Karena masih banyak yang buta huruf, pengumuman-pengumuman itu dibacakan oleh tukang teriak (town crier) yang biasa didampingi pemain musik.
Terakota Yunani dan Romawi Kuno sudah digunakan untuk mengumumkan lost & found. Di reruntuhan kota Pompeii terdapat tanda-tanda di terakota yang mengiklankan apa ynag dijual di toko : danging sapi (row of hams), sapi penghasil susu, kulit untuk sepatu. Disaping itu juga ditemukan bukti-bukti adanya pesan-pesan politik.
Orang-orang Ponosea melukis gambar untuk mempromosikan perangkat keras mereka di batu-batu besar di sepanjang jalur parade. Di Pompei misalkan, banyak lukisan seorang tokoh politisi dan meminta dukungan suara dari masyarakat. Di Perancis, traditional advertising sudah marak tahun 550 Sebelum Masehi untuk mengiklankan kaum negro sebagai budak.
Pada zaman Julius Caesar di eropa banyak toko dan penginapan yang sudah pakai tanda, papan nama, atau simbol, untuk membantu mereka yang buta huruf. Misalnya penginapan dengan simbol Man in The Moon, Three Squirrels, Hole in The Wall.
Untuk ribuan tahun-tahun awal, orang beriklan untuk mempromosikan dua hal, tempat dan jasa. Iklan di bawah ini adalah contoh pertama. Begitu juga plang di depan kedai minum dan penginapan (taverns and inns)
Daniel Mannix, dalam bukunya yang bercerita tentang olah raga kuno Roma, “ Those About to Die “, mencatat sebuah iklan yang ditemukan di sebuah kuburan tua (tombstone) :
Masa setelah ditemukannya mesin cetak
Penemuan mesin cetak Gutenberg 1450 meningkatkan angka melek huruf sehingga merangsang orang untuk berbisnis iklan. Periklanan jadi bisnis massal. Bentuk awalnya berupa poster,handbill (selebaran), dan iklan baris (classified) di surat kabar.
1472 William Caxton di London mencetak iklan berbahasa Inggris pertama berupa selebaran (handbill) berisi tuntunan keagamaan tentang perayaan paskah (rules for the guidance of the clergy at easter). Versi lain mengatakan iklannya berupa penjualan injil (prayer book). Awal abad 16 dan 17 yang banyak ditampilkan adalah iklan tentang budak belian, kuda buku, obat.
Sebagai bentuk printed advertising, periklanan berkembang di awal abad 15-16. Beberapa waktu kemudian mulai muncul metode iklan dengan tulisan tangan dan dicetak di kertas besar yang berkembang di Inggris. Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada Imperial Intelligencer Maret 1648.
Pada tahun 1622 Surat kabar terbit di Inggris terbit untuk pertama kalinya,The Weekly News kemudian disusul The Tattler yang terbit tahun 1709 dan The Spectator yang terbit pada 1711. Ketiga Koran ini merupakan media cetak yang membawa lembaran iklan secara piggy-back.
Pada tahun 1655 istilah iklan (advertisement) muncul pertama kali dalam injil untuk menunjuk istilah “peringatan”/“pemberitahuan” (warning/ notification).
Pada tahun 1660 mulai istilah itu dipaka untuk keperluan informasi komersial (commercial information), khususnya oleh para saudagar toko.Pesan-pesan iklan lama kehalaman semakin simple dan inovatif sejak tahun 1700 dan 1800-an.
Pada tahun 1690 lahir Public Occurencs Both Foreign and Dometic, Koran (tidak harian) pertama di Amerika hanya  membuat satu berita (issue).
Periklanan secara nyata mulai menunjukkan kemajuan di awal abad 17 di Inggris untuk mempromosikan buku dan Koran yang mulai berkembang.Pada abad ke-17 di Inggris, pesan-pesan komersial masih berbentuk poster atau selebaran lepas yang dikirim dalam lipatan surat kabar. Produk yang paling banyak diiklankan pada masa ini adalah buku dan obat-obatan.
Pada tahun 1704 Boston Newsletter, koan AS pertama yang muat iklan, berupa tawaran hadiah bagi yang bisa menangkap pencuri baju.
Iklan-iklan media cetak pada abad 18 umumnya ditunjukan pada sasaran pembaca di Eropa yang menyebutkan adanya tanah-tanah garapan yang menantang untuk masa depan di Amerika. Salah satunya iklan ada tanah 150 ha di Philadelphia.
Pada tahun 1729 Iklan pertama di surat kabar “ Pennysilvania Gazette” yang terbit di Amerika Serikat. Amerika waktu itu masih menjadi wilayah jajahan Inggris, dan surat kabar yang didirikan oleh Benjamin Franklin itu berhasil mencapai tiras tertinggi serta pendapatan iklan terbesar pada masanya.
Pada tahun 1740 poster cetak outdoor pertama muncul di London (disebut “hoarding”).
Pada tahun 1776 muncul iklan proklamasi kemerdekaan AS di Pennsylvania Evening Post and Daily Advertiser, Koran yang terbit secara harian pertama di AS.
Ketika aktivitas perekonomian mulai meningkat diberbagai penjuru dunia, di abad 18-an, di Amerika Serikat, periklanan mulai mendapat perhatian besar. Beberapa toko di Eropa mulai berfungsi sebagai agen yang mengumpulkan iklan untuk surat kabar.
Sangat boleh jadi Sears catalog menjadi inspirasi bagi lahirnya iklan display di media cetak. Sears adalah pelopor rantai toko (chain stores) di A.S yang kemudian berkembang menjadi department stores. Kehadiran Sears yang menjual berbagai barang secara lengkap menggantikan toko-toko serupa berskala kecil yang pada waktu itu disebut dengan mercantile.
Untuk memudahkan pelanggan, karena pada masa itu transportasi masih terbatas, Sears menerbitkan katalog tentang semua barang yang dijual dan para langganan dapat memesan melalui pos (mail order). Setiap barang yang ditawarkan ditampilkan secara menarik dengan foto-foto dan gambar-gambar yang atraktif. Begitu populernya Sears Catalog di masa lalu, sampai-sampai ia disebut sebagai Injil Petani (Farmers Bible)
Tampilan dan peragaan produk seperti di Sears Catalog itulah yang kemudian dijumpai  di berbagai surat kabar dan majalah di Amerika Serikat, serta kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di masa kini penampilan seperti itu sering disebut sebagai display advertising (iklan komersial)
Pada abad ke-19 mulai dikenal pembelian ruang iklan melalui agen perseorangan (menyalurkan lagi ke perusahaan periklanan). Pada masa dinasti Edo di Jepang, awal abad-19 selebaran yang didistribusikan bersama surat kabar juga banyak membawa pesan-pesan komersial, khususnya tentang obat-obatan.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai bergerak pesat pada awal abad ke-19 akhirnya memicu hadirnya iklan di surat kabar amerika Serikat, beberapa surat kabar mulai memuat pesan-pesan singkat tentang produk, tampil dengan huruf-huruf kecil di dalam kotak, di antara berita dan Tulsan lain. Iklan yang saat ini disebut sebagai classified advertisement ini mempromosikan berbagai jenis barang dan jasa.
Pada tahun 1841 Volney Palmer, “orang iklan” (adman) masa-masa awal, bertindak sebagai media broker / agen, mendapat komisi dari pemasangan iklan di media (media placement). Palmer mendirikan Agensi Periklanan pertama oleh Volney Palmer di Boston. Pada waktu itu, agensi periklanannya masih sebatas perantara pemasar dengan pihak surat kabar sebagai penerbit iklan
Pada tahun 1844 muncul iklan majalah pertama di majalah Southern Messenger dengan editornya Edgar Allan Poe (pengarang Tarzan). Majalah-majalah iklan periode awal yang masih terbit sampai sekarang adalah Cosmopolitan, ladies Home Journal, ReadeR’s Digest.
Sampai tahun 1850-an, di Eropa iklan belum sepenuhnya dimuat di surat kabar. Kebanyakan masih berupa pamflet, leaflet, dan brosur.

Pada tahun 1864 periklanan berkembang seiring perkembangan pers yang juga ditandai berkembangnya perusahaan periklanan dengan fungsi sederhana.
Pada tahun 1871 Charles bates membuat biro iklan professional pertama kali.
Pada tahun 1875 di Philadelpia, dibuat agensi periklanan yang lebih multi fungsi. Dalam periode ini pula wanita mulai mengambil porsi. Baik sabagai tenaga periklanan, maupun sebagai image produk iklan. Penggunaan “wanita” sebagai daya tarik, pertama kali dipakai dalam iklan sabun mandi.
Pada tahun 1880 John Power, penulis naskah iklan (copywriter) pertama
Setelah 1880an, perusahaan periklanan meningkatkan fungsi dengan menawarkan konsultasi dan jasa periklanan lain
Pada tahun 1891 J Walter Thompson, Account Executive pertama.
Pada tahun 1920 KDKA stasiun radio pertama di dunia lahir di Pittsburgh. Saat radio siaran mulai mengudara di tahun 1920-an, periklanan di radio pun mulai marak walaupun secara teknis dan daya tarik, tidak seperti yang kita nikmati saat ini. Sponsorsif saat itu lebih banyak dikuasai satu orang/pihak. Misalnya, sponsorsif suatu radio, dikuasai satu bisnisman. Dengan kata lain, space iklan digunakan sendiri. Tapi seiring dengan tingginya persaingan, kondisi ini berangsur-angsur berubah.
Pada tahun 1922 Iklan pertama di radio duniaWEAF, New York.
Pada tahun 1939 NBC, stasiun tv pertama.                                            Periklanan masuk dunia televisi di awal tahun 1940an. Iklannya bisa berupa commercial atau public advertising
Pada tahun 1941 Iklan televisi hitam/putih pertama di New York, Amerika Serikat  mengiklankan Arloji Bulova dengan harga spot US $ 9.
c.       Sejarah Periklanan di Indonesia
 Berawal dari Gerobak Sapi Pada tahun 1930an, banyak poster dan papan reklame ditempel pada panel samping gerobak sapi yang hilir mudik mengangkut barang. Pada masa itu, kebanyakan papan reklame dicetak diatas lembar plat seng atau logam yang cukup tebal. Banyak pula yang dilapis enamel agar tahan lama. Setelah tahun 1948, ketika bahan ”ajaib” yang bernama scothlite ditemukan banyak pula papan reklame yang menggunakan scothlite tadi karena mampu memantulkan cahaya dengan efek mengagumkan. Plat-plat seng reklame itu kini merupakan kolekters item yang berharga di pasar benda-benda antik. Ketika itu, produk yang paling banyak diiklankan melalui media luar ruang bergerak (moving outdoor media) antara lain adalah produk-produk ban sepeda dari goodyear dan michelin, produk sabun dan tapal lidi dari unilever, limun (soda pop) merek regional, dan produk rokok dari berbagai produsen, termasuk cerutu impor. Media opportunity pada waktu itu memang sangat terbatas, tetapi orang-orang periklanan sudah sangat kreatif menggunakan setiap peluang yang ada-termasuk media tradisional.
Belum terbayangkan ketika itu bahwa jauh di kemudian hari kreativitas iklan telah melahirkan berbagai media untuk menempatkan iklan diluar ruang. Transit advertising telah menjadi sub bisnis besar dalam periklanan. Sisi-sisi bus dan kendaraan umum dipasangan panel iklan, atau spanduk yang ditarik pesawat terbang rendah, bahkan penutup velg roda (hubcaps) maupun lampung punggung taksi. Tetapi, gajah di thailand yang sejak dulu sering ”ditempeli” papan iklan, sampai di zaman modern ini pun masih menjadi media iklan yang efektif. Surat kabar, tentu saja, merupakan media yang juga populer di indonesia sejak pertengahan awal abad ke 19. tetapi, berdasarkan kriteria umumnya sebetulnya iklan surat kabar sudah hadir di indonesia sejak tahun 1621 ketika gubernur jenderal Jan Pieterszon Con (1619-1629) menerbitkan Memorie De Nouvelles pamflet informasi semacam surat kabar yang memuat berbagai berita dari pemerintah hindia belanda, khususnya yang menyangkut mutasi dan promosi para pejabat penting di kawasan ini. Pamflet ini berupa tulisan indah (silografi) yang diperbanyak dengan mesin cetak temuan Johannes Gutenberg (1445).
Berita-berita yang dimuat itu sebetulnya merupakan iklan karena pemuatannya di Memorie De Nouvelles sepenuhnya di biayai oleh pemerintah hindia belanda. Sekalipun sangat berbau perbenturan kepentingan (conflict of interest, bahasa masa kini = KKN), tetapi sang gubernur jenderal Con adalah juga penerbit media itu dan sekaligus memiliki reclame Bureau yang megatur pemuatan ”berita di pamflet itu”. Con juga memakai Memorie de Nouvelles untuk memuat ”berita dengan pesan khusus ” untuk melemahkan daya saing peniaga portugis di kawasan maluku. Tentu saja, ada VOC dibelakang siasat perang dagang itu. Pada tahun 1744, terbitlah surat kabar pertama yang memakai teknologi cetak tinggi, dengan (plat cetak dari timah) di nusantara. Namanya : Bataviaasche Nouvelles. Tetapi, surat kabar yang juga disponsori oleh pemerintah hindia belanda pada masa gubernur Jenderal Gustaav Willem Baron Van Imhovv itupun sebetulnya lebih merupakan lembaran iklan karena memang lebih banyak menampilkan iklan dan dibiayai hampir sepenuhnya oleh pendapatan iklan pula. Maklum, surat kabar pada waktu itu hanya bertiras paling banyak hanya 2500 eks. Sehingga penghasilan sirkulasinya tentulah sangat sedikit.
Java Bode Dari berbagai surat kabar yang terbit di jakarta, bandung, semarang, surabaya, makasar, manado, dan medan pada pertengahan abad ke 19, dapat dilihat hadirnya berbagai iklan barang dan jasa yang memenuhi halaman-halaman media cetak. Beberapa nama koran besar di masa itu antara lain adalah: Bataviaasch Nieuwsblad, Nieuws van de Dag, Java Bode (batavia), Preanger Bode (Bandung), De Locomotief (semarang, semula Samarangsche Nieuws en Advertentieblad), Nieuwe Vorstenlanden (solo), Soerabaiasche Courant (Surabaya, semula Oostpost), Makassararsche Courant (makasar), Tjahaja Siang (manado), Sumatra Post (Medan), dan Soematra Bode (padang).
Selain itu, telah mulai hadir pula berbagai surat kabar dalam bahasa melayu (sebelum kemudian menjadi bahasa indonesia sejak 1928.) surat kabar berbahasa melayu yang populer pada masa itu antara lain adalah Medan Moeslimin, Medan Prijaji, Sinar de Jawa, Sinar Terang, dan Soerat Kabar Minggoean. Kebijaksanaan kontrol informasi yang diterapkan sangat ketat oleh pemerintah hindia belanda pun membuat surat kabar tidak dapat menjalankan fungsinya secara penuh sebagai lembaga pemberita. Peran pers indonesia sebagai alat politik baru muncul pada awal abad ke 20 seiring dengan kegerakkan kebangkitan nasional dan lahirnya ordonasi pers yang mengatur pembredelan surat kabar.
Di zaman ”kuda gigit besi” itu, ikaln-iklan juga ramai diudarakan melalui radio, diproyeksikan di gedung bioskop dan ditampilkan melalui pertunjukan keliling (mobil propaganda) mirip tukang obat yang hingga kini masih banyak dijupai di berbagai kota kecil. Iklan radio sebetulnya mash merupakan sebuah novelty pada  awal bad ke-20 setelah radio commercial pertama dikumandangkan oleh stasiun WEAV di New York City pada 28 Agustus 1922. Sebuah perusahaan real estate di Quinsboro membayar US  $50 untuk penyuaran pesan komersial selama 5 hari.
“Adventertie poenza kaperloean soedah kentara , kerna advertentie perloenja boeat perkenalken barang-barang dagangan kita ada publiek. Kaloe barang jang kita dagangken tidak dikenal, bagaiman bisa dapatken pembeli”
Liem Kha Tong Sebelum iklan hadir di radio, pesan komersial sudah lebih dulu hadir melalui saluran telepon. Pada tahun 193, perusahaan telepon di Hongaria ”menjual spot 12 detik di antara musik dan berita yan dipanarkan lewat telepon dengan tarif sekitar US $0.50. Perusahaan telepon AT&T di Amerika Serikat juga pada awal abad ke-20 menerima pesan-pesan komersial yag dipancarkan melali cara call broadcasting ini.
Di Indonesia, radio sudah dikenal sejak awal abad ke-20. Tidak lama setelah Guglielmo Marconi menemukan gelombang suara dan mengembangkannya menjadi alat komunikasi yang bernama radio telegrafik, dan keudian berkembang lagi menjadi pemancar dan penerima gelombang radio. Radio Nederland WERELDOMROEP yang memancarkan siarannya ke seluruh dunia sejak taun 1920-an. Merupakan pemancar yang paling digemari kaum elite, khususnya orang-orang belanda di Indonesia pada waktu itu.
Akan tetapi, radio swasta baru muai hadir cikal bakalnya di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an, yitu sejak tumpasnya pemberontakan G30 S/PKI. Sebelumnya, di Indonesia hanya dikenal RRI yang telah mengudara sejak tahun 1945. RRI sendiri dapat dirunut sejarahnya sejak stasiun radio bentukan pemerintah Hindia Belanda yang dikendalikan oleh tentara pendudukan jepang.
Pada awalnya, beberapa mahasiswa di Bandung secara iseng-iseng mengudara dengan pemancar sederhana berkekuatan rendah. Pada waktu itu mereka menyebutnya sebaga radio amatir sebuah istilah yang salah kaprah kaena engertian amateur radio menjeaskan kegiatan yang berbeda dengan teknologi radio dua arah.
Kata “amatir” disini agaknya dipakai sebagai antonym dari “professional.” Stasiun-stasiun radio “amatir” ini meruakan bagian dari perlawanan politik kaum muda terhadap sisa-sisa PKI. Sebelumnya, mereka juga telah melakukan perlawanan dengan membentuk lascar dan batalyon, seperti LAskar Arif Rachman Hakim yang merupakan  onderboue dari KAMI. Maka, lahirlah radio ARH dan radio-radio semacam itu di Indonesia.
Gerakan itu dengan  cepet menyebar ke Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Radio Prambors kini telah mengembangkan jejarinnya dengan beberapa anak perusahaan stasiun radio yang masing-masing memiliki pasar khas di jalan Borobudur, Jakarta Pusat, juga dapat dirunut sejarahnya pada periode itu.
Kehadiran radio-radio ”Amatir” itu segera mendapat lirikan para pengiklan yang memang sedang membutuhkan media alternatif. Salah satu perintis pengguna radio ”amatir” di Indoesia sebagai  media iklan adalah Ajino  moto. Embanjirnya iklan di radio kemudian meningkatkan profesionalisme para pengelola radio ”amatir” apalagi karena pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan pemerintah no.55 tahun 1970 yang ewajibkan semua stasiun radio siaran niaga dipayungi dalm wadah badan hukum berbentuk PT. Sejak saat itu, istilah ”radio amatir” berubah menjadi  ”radio siaran swasta niaga”.
d.      Defenisi Iklan
Kothler mendefenisikan iklan meruapakan segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. (Kothler, 2002 : 658)
Periklanan dikenal dikalangan pengusaha dan produsen sebagai istilah suatu program komunikasi penunjang yang dapat difungsikan untuk menunjang program lain. Iklan adalah setiap bentuk yang mendapatkan imbalan dari presentase tidak langsung dan promosi ide-ide barang atau jasa oleh sponsor tertentu.
Semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, Atau jasa secara non personal. Iklan berwujud penyajian informasi massal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dijalankan dengan  kompensasi  biaya tertentu.
Iklan atau bahasa Inggrisnya advertising merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan barang atau jasa yang ditawarkan kepada calon pelanggan atau konsumen sekaligus mengajak calon pembeli untuk memiliki barang yang ditawarkan.
Iklan adalah bagian dari bauran promosi dan bauran promosi adalah bagian dari  bauran pemasaran. Jadi secara sederhana  iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan  suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat  lewat suatu media ( Rhenald Kasali , 1992).
Sedangkan menurut Frank Jefkins (1997)  iklan adalah pesan yang diarahkan untuk membujuk orang untuk membeli.  Definisi standar dari periklanan  biasanya mengandung enam elemen :
a.       Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar, walaupun beberapa bentuk periklanan seperti iklan layanan masyarakat, biasanya menggunakan ruang khusus yang gratis.
b.      Selain pesan yang harus disampaikan harus dibayar, dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor. Iklan bukan hanya menampilkan pesan mengenai kehebatan produk yang ditawarkan, tapi juga sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai perusahaan yang memproduksi produk yang ditawarkan.
c.       Upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen.
d.      Periklanan memerlukan elemen media massa sebagai media penyampai pesan  kepada audiens sasaran.
e.       Periklanan mempunyai sifat bukan pribadi
f.       Periklanan adalah audiens. Dalam iklan harus jelas ditentukan kelompok konsumen yang jadi sasaran pesan.  
Secara sederhana iklan didefinisikan sebagai ”Pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat media”. Pada dasarnya, satu-satunya tujuan periklanan adalah menjual suatu produk, jasa atau ide atau tujuan sebenarnya adalah komunikasi yang efektif, yakni dimana efek akhir periklanan adalah mengubah sikap atau perilaku penerima pesan.
e.       Klasifikasi Iklan
Berdasarkan prinsip-prinsip periklanan, secara umum iklan dapat diklasifikasi menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
1.      Iklan Produk. Iklan ini biasanya masuk dalam kategori konvensional. Berbagai perusahaan biasanya mengiklankan produknya kepada konsumen. Iklan produk ini semacam upaya untuk memberi tahu pada konsumen terhadap produk baru. Microsoft misalnya baru-baru ini meluncurkan Windows Vista. Untuk mengiklankan produk ini, kabarnya Microsoft mengeluarkan duit hingga milyaran dollar Amerika.
2.      Iklan Eceran. Iklan kategori ini bersifat lokal dan berfokus pada toko. Misalnya saja, Anda sering menjumpai iklan-iklan di Carefoure yang menyampaikan produk murah. Iklan eceran berfokus pada tempat, harga, jam, dan ketersediaan barang.
3.      Iklan Korporat. Jenis iklan ini befokus untuk membangun identitas korporasi atau untuk mendapatkan dukungan (opini) publik terhadap sudut pandang atau perubahan yang dilakukan sebuah perusahaan. PT Pertamina misalnya melakukan perubahan logo. Untuk itu, Pertamina melakukan iklan besar-besaran. Hal yang sama sebelumnya juga dilakukan Indosat dengan merubah logonya. Iklan korporat biasanya dibuat untuk membangun karakteristik baru atau citra baru dari sebuah perusahaan.
4.      Iklan Bisnis ke Bisnis. Iklan ini termasuk jenis iklan baru. Contoh yang sederhana untuk menggambarkan iklan macam ini adalah sebuah perusahaan ban yang mengiklankan diri pada perusahaan manufaktur mobil. Jadi, perusahaan ban itu mensponsori ban mobil yang dibuat.
5.      Iklan Politik. Iklan politik ini muncul di Amerika. Biasanya digunakan dalam event-event politik. Namun, seringkali iklan politik lebih cenderung pada pembentukan citra ketimbang berbicara tentang isu-isu yang sedang dihadapi masyarakat. Tetapi bukan tidak mungkin iklan politik hanya dibuat para politisi. Pemerintah Malaysia dan Thailand pada tahun 1998 juga membuat iklan politik. Mereka meluncurkan kampanye periklanan untuk memperbaiki reputasi mereka yang menguap dan mengembalikan investor yang hilang.
6.      Iklan Direktori. Jenis iklan ini biasanya terdapat dalam direktory yellow pages. Iklan direktori ini unik karena ada kecenderungan para penggunanya siap membeli produk atau jasa ketika membuka direktori.
7.      Iklan Respon Langsung. Iklan kategori ini melibatkan komunikasi dua arah antara pengiklan dan konsumen. Periklanan ini menggunakan sembarang media periklanan (pos, televisi, koran atau majalah), dan konsumen dapat menanggapinya, sering kali lewat pos, telepon atau faks. Banyak perusahaan memperbolehkan konsumen menanggapinya secara online. Sebagai contoh, Majalah Time menggunakan iklan televisi untuk periklanan respon langsung. Iklan tersebut mengajak para pemirsa menelepon satu nomor bebas pulsa untuk berlangganan majalah atau meminta informasi lebih lanjut. Serupa dengan itu, perushaan menggunakan kartu-kartu yang disisipkan ke dalam rak-rak penjualan yang dengan sendirinya merupakan mekanisme tanggapan. Konsumen hanya perlu mengisinya dan mengeposkan tanpa prangko untuk mendapatkan kiriman ke rumah.
8.      Iklan Layanan Masyarakat. Iklan ini dirancang beroperasi untuk kepentingan masyarakat dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat. Iklan-iklan ini diciptakan bebas biaya oleh para profesional periklanan, dengan ruang dan waktu iklan merupakan hibah oleh media.
9.      Iklan Advokasi. Iklan jenis ini berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan dan klarfisikasi isu sosial yang kontroversial dan menjadi kepentingan masyarakat. Perusahaan yang menerapkan strategi periklanan pada masalah sosial seperti konservasi alam semakin bertambah banyak.
f.       Unsur-Unsur Iklan
Pengirim iklan adalah produsen atau dalam bisnis periklanan di wakili biro iklan
Isi iklan dalam iklan ada headline kalimat singkat tidak lebih dari 10 kata dan di harapkan konsumen langsung dapat banyak informasi mengenai produk dan jasa body copy adalah informasi tambahan bila konsumen tertarik.
Media komunikasi tempat iklan di sajikan baik di media cetak,media elektronik atau media lainnya antara lain media internet yang penetrasinya di indonesia masih kurang,billboard dll.
Penerima iklan konsumen yang di sasar produk barang atau jasa kita
g.      Kriteria Iklan yang Baik
Mempunyai sasaran yang jelas,dengan menentukan target konsumen ada target utama dan target kedua,ini juga untuk menentukan media pasang iklan dan penetapan target konsumen tergantung pada kualitas,harga,distribusi(jangkauan pemasaran)
Mempunyai fokus atas hal yang ingin di komunikasikan dariproduk dan jasa yang di iklankan.
Mempunyai daya tarik tertentu hingga konsumen yang di sasarnya bisa berhenti untuk memperhatikan isi iklan,selain kata kata menarik,daya tarik iklan muncul dari desain layout yang menarik.
h.      Iklan Sebagai Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran adalah suatu adalah suatu aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima,  membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. (Tjiptono, 1999 : 219)
i.        Strategi Iklan
Terdapat tiga tujuan utama dari periklanan yaitu, menginformasikan, membujuk dan mengingatkan.
Tujuan periklanan yang pertama, yaitu periklanan informatif yang  berarti pemasar harus merancang iklan sedemikian rupa agar hal-hal penting mengenai produk bisa disampaikan dalam pesan iklan. Iklan yang menonjolkan aspek manfaat produk biasanya dikategorikan sebagai iklan yang bersifat informatif. Pesan iklan peluncuran produk juga biasanya bersifat informatif.
Tujuan periklanan yang kedua adalah periklanan yang bersifat membujuk berperan penting bagi perusahaan dengan tingkat persaingan tinggi. Tujuan pemasar adalah mencoba meyakinkan konsumen bahwa merek yang ditawarkan adalah pilihan yang tepat. Iklan yang bersifat membujuk biasanya dituangkan dalam pesan-pesan iklan perbandingan ( comparative advertising). Pemasar berusaha membandingkan kelebihan produk yang ditawarkan dengan produk lain yang sejenis. Produk-produk konsumsi sangat sering menggunakan iklan perbandingan dengan tujuan membujuk.
Tujuan periklanan yang ketiga adalah mengingatkan. Pada umumnya iklan yang bersifat mengingatkan digunakan untuk produk-produk yang sudah mapan dan mempunyai kelompok konsumen tertentu. Iklan yang bersifat mengingatkan sangat penting terutama bagi produk-produk yang dibeli dengan keterlibatan rendah.
Produk yang dibeli berulang-ulang tapi dengan keterlibatan konsumen yang rendah sangat rentan terhadap bujukan-bujukan pesan iklan produk lain yang sejenis. Banyak produk-produk yang dulu mapan dan menguasai pasar kini hilang karena tidak ada kampanye iklan yang bersifat mengingatkan. Sebagai contoh, pasta gigi Signal dulu pernah beredar dan mempunyai segmen pasar tertentu, tapi kini hilang di pasaran karena salah satu penyebabnya tidak ada upaya iklan yang bersifat mengingatkan. 
(Sutisna, 2002; 276)
Strategi memegang peranan vital dalam penentuan keberhasilan iklan. Strategi merupakan dasar membangun merek, strategi menjaga agar periklanan dan elemen pemasaran berada dalam jalur yang tepat serta membangun kepribadian merek dengan jelas dan konsisten. Strategi mewakili jiwa sebuah merek dan menjadi elemen penting untuk keberhasilan (Roman Maas & Nisenholtz, 2005; 44).
Tujuan dari strategi adalah usaha untuk menciptakan iklan yang efektif, oleh karena itu selain rumusan pertanyaan 5W + 1H maka pengetahuan yang cukup tentang produk, persaingan pasar atau kompetitor dan analisis mendalam tentang konsumen merupakan kunci pokok yang harus diketahui oleh pemasar sebelum merumuskan sebuah strategi. (Ian Batey, 2003; 65). Hal tersebut mencakup 2 hal, yakni:
1.       Representasi
a.      Defenisi Representasi
Representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies, representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. (Chris Barker)
Menurut kamus besar bahasa indonesia defenisi dari represenasi menrupakan perbuatan mewakili, Keadaan diwakili, apa yg mewakili. Representasi,biasanya , dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to present”, “to image”, atau “to depict”.
Wandersee, Mintzes & Novak (dalam Chiu & Wu, 2009 ; 252) menyatakan bahwa representasi merupakan suatu cara untuk mengekspresikan fenomena, objek, kejadian, konsep-konsep abstrak, gagasan, proses mekanisme dan bahkan sistem. Representasi digunakan untuk berbagai tujuan untuk menyajikan kembali (re-present) suatu kenyataan, hipotetikal atau entitas imajinatif  tanpa memperhatikan sifat-sifat alaminya. Istilah representasi dapat digunakan dengan berbagai konotasi yang mungkin saja menghasilkan kesalahpahaman atau keraguan.
Berdasarkan kamus Australian Concise Oxford Dictionary (Hughes et al., 1995), definisi dari kata  ‘representation’ berarti sesuatu yang merepresentasikan yang lain (‘means something that represents another’). Kata menyajikan (represents) memiliki sejumlah makna termasuk : mensimbolisasikan (to symbolize); memanggil kembali pikiran melalui gambaran atau imajinasi (to call up in the mind by description or portrayal or imagination) ; memberikan suatu penggambaran ( to depict as). Makna istilah-istilah tersebut memperkuat pentingnya suatu representasi untuk membantu mendeskripsikan dan mensimbolisasikan dalam suatu eksplanasi.
Penggunaan representasi dengan berbagai cara atau mode representasi  untuk merepresentasikan suatu  fenomena  disebut multiple representasi.  Waldrip (2006) mendefinisikan multiple representasi sebagai praktik merepresentasikan kembali (re-representing) konsep yang sama melalui berbagai bentuk, yang mencakup mode-mode representasi deskriptif (verbal, grafik, tabel), experimental, matematis, figuratif (piktorial, analogi dan  metafora), kinestetik, visual dan/atau   mode aksional-operasional.
2.      Perempuan
a.      Defenisi Perempuan

b.      Makna Perempuan dalam Iklan
3.      Semiotika
a.      Defenisi Semiotika Komunikasi
b.      Ruang Lingkup Kajian Semiotika
c.       Macam-Macam Semiotika
d.      Tokoh Semiotika
e.       Konsep Semiotika Roland Barthes

B.     Kerangka Konsep






BAB III
METODELOGI
A.    Tempat dan Waktu Penelitian
     Penelitian dilakukan di RW. 01 wilayah Kampung Gunung Tangerang selatan. Alasannya masyarakat kelurahan grogol selatan adalah masyarakat pekerja yang memiliki aktivitas tinggi dan mempunyai kecenderungan sebagai pengguna produk karena wilayahnya yang dekat dengan pasar ciputat. Waktu penelitian yaitu antara bulan Mei 2013 sampai dengan bulan juli 2013.
B.     Rancangan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Grounded Research penelitian ini menjurus pada studi verifikasi (pengecekan). Dengan demikian penelitian ini tidak bertitik tolak pada data tetapi dari konsep, hipotesis dan teori yang sudah mapan yang mungkin sekali tidak khas pada masyarakat yang sedang diteliti. (Agus Suradika 2000 :15)
Tipe penelitian ini adalalah Penelitian deskriptif yang bertujuan untuk:
1.    Untuk mengetahui perkembangan sarana fisik atau frekuensi terjadinya suatu aspek fenomena sosial tertentu hasilnya dicantumkan dalam tabel-tabel.
2.    Untuk mendeskriptifkan (menggambarkan) secara terperinci fenomena sosial tertentu. (Suradika, 2002 :13)
Sifat Dari Penelitian ini
C.     Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian.  Populasi yang diambil dari penelitian ini adalah masyarakat di Kampung Gunung Indah 7 Tangerang Selatan, mulai dari umur 17 sampai 45 tahun, karena pada usia tersebut adalah masa yang produktif serta memiliki aktivitas tinggi, yang jumlahnya sekitar 1222 jiwa.
2.    Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap dapat mewakili keseluruhan populasi. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling sistematik. Pada teknik cara penarikan sampel hampir mirip dengan teknik sampling sederhana, bedanya pada cara ini ditentukan dahulu angka kode patokan. Misalnya disini 1222 jiwa anggota populasi akan kita ambil 200 sampel, pengolahan pertama didapat angka 1 maka sampel selanjutnya adalah 11, 21, 31,41 dan seterusnya, sampai ditemukan 200 anggota.
D.     Pengukuran dan Pengamatan Variabel
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.    Kuesioner
Penyebaran kuesioner kepada warga dikelurahan Grogol Selatan, melalui cara ini diharapkan data yang diperlukan dapat terkumpul sehingga dapat memperkuat hasil penelitian.
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan survai dan memperoleh informasi yang valid. (Singarimbun, 1989 : 175)
Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, kuesioner tertutup adalah jenis kuesioner dengan pertanyaan yang kemungkinan jawabannya sudah ditentukan  terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan memberikan jawaban lain. (Singarimbun, 1989 : 177)
2.    Studi Kepustakaan
Yaitu pengumpulan data dilakukan guna menggali teori-teori dasar, meneliti tulisan-tulisan ilmuan melalui buku-buku, literaur, buku-buku wajib, catatan kuliah maupun sumber-sumber data lain yang ada hubungannya dengan permasalahan yang akan dibahans.
E.     Teknis Analisa Data
Teknis analisa data yang ingin dilakukan  dengan menggunakan tabel frekuensi untuk mendeskripsikan jawaban-jawaban dari responden terhadap pertanyaan penelitian. Dari data kuantitatif yang berupa angka, kemudian ditafsirkan kedalam kalimat-kalimat untuk mempermudah dalam menggambarkan keadaan responden dan menarik kesimpulan dari hasil penelitian.
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan cara :
Studi literatur, yaitu mengumpulkan literatur - literatur yang berkaitan dengan permasalahan penelitian dengan cara menelaah dan mempelajari buku-buku, makalah, jurnal dan sebagainya yang berhubungan dengan pokok permasalahan penelitian ini, yang penulis lampirkan pada daftar pustaka.







BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Data
B.     Pengujian Hipotesis
C.    Penafsiran dan Pembahasan Temuan Hasil Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
§  Kennedy E Jhon dan Soemanagara Darmawan, 2004, Marketing Communication Taktik dan Strategi, PT Rosda Karya : Bandung
§  Sutisna, 2000, Prilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, PT Rosda Karya, Jakarta.
§  McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga
§  Nurudin, 2003, Komunikasi Massa, Malang: CESPUR.
§  Sasa Sendjaja, 2002, Fungsi Komunikasi massa, hand out Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Surakarta: FISIP UNS
§  Effendy, Onong Uchyana, 2001. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
§                       2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.
§  Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: ANDI.
§  Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
§  Mulyana, Deddy dan Solatun. 2007. Metode penelitian komunikasi: Contoh contoh Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. Bandung:  Remaja Rosdakarya.
§  Barang Dan Jasa - Manajemen Pemasaran. http://organisasi.org. Minggu
tanggal 27 April 20013 jam 10:50 WIB.
§  Kamis Sore. Sebuah Logo dan Maknanya. http://kamissore.blogspot.com
Sabtu tanggal 26 Maret 2013 pukul 19:04 WIB.
§  Kusnadi Assaini. Tentang Logo. http://belajardekavedua.blogspot.com. Minggu  tanggal 27                                        April 2013 jam 10:21 WIB.
§  Komunikasi Massa. http://operadewa.wordpress.com/2012/03/12/fungsi-komunikasi-massa/ 29 April 2013 20:34








Tidak ada komentar:

Posting Komentar